Pantai Sembilan Gili Genting, Membuatku Jatuh Cinta

pantai-sembilan

Senja di Pantai Sembilan, Gili Genting

Sudah sejak lama aku pengen banget ke Pantai Sembilan. Sejak akhir tahun 2016 malah, sejak Pantai Sembilan belum seterkenal sekarang. Udah tak terhitung berapa kali aku ngerencanain buat ke sana. Pernah ngajakin temen malah di PHPin, Hiks. Pernah udah siap berangkat tapi cuaca tidak mendukung, pernah juga gak diijinin sama ortu, juga beberapa hal yang memang tidak bisa dihindari sehingga rencana harus dicancel. Nyesek itu selama hampir 6 bulan cuma bisa liatin instagram temen-temen yang posting foto mereka lagi di Pantai Sembilan dengan mupeng. Argh…. Tapi alhamdulillah, Finally….. tanggal 13-14 Mei 2017 keinginanku tersampaikan. Allah menggantikan kegagalan-kegagalan sebelumnya dengan sebuah perjalanan yang begitu berharga. Jauh di luar dugaanku.

Menyusun Itinerary

Perjalanan ini sebenarnya tidak terlalu terencana, sedikit dadakan gitu. Berawal dari pesan instagram dari Mbak Zie pada Jum’at pagi.

“Mb.. aku besok ke Gili Iyang dua hari. Gabung Yuk..”

Tawaran menarik nih, tapi sayang aku gak bisa ikut karena hari Sabtu aku kerja. Dan ini terlalu mendadak untuk bisa cuti. Sepanjang hari itu kita berkirim pesan. Merayu Mbak Zie supaya berangkat dari Pamekasan Sabtu siang, biar aku bisa ikut. Mbak Zie setuju setelah konfirmasi sama Mbak Amiy, yes. Lanjutlah kita menyusun itinerary, mencari informasi tentang transportasi, penginapan dan spot-spot menarik yang akan kita kunjungi. Untuk ke Gili Iyang aku minim informasi, jadi aku mengusulkan buat ke Gili Genting saja.

“Ngidam Gili Iyang sejak lama. Kalo nutut kita ke Gili Genting juga yuk..” begitu tanggapan Mbak Zie. Well, setelah berkali-kali merombak itinerary jadilah kita ke Gili Genting dulu, menginap di sana, baru ke Gili Iyang esoknya.

Partner Traveling

Oke, sebelum memulai cerita perjalanan, aku kenalin dulu ya partner traveling selama perjalanan ini. Mbak Zie, seorang guru, penulis, blogger, traveller yang baru saja menyelesaikan ujian tesis beasiswa S2nya di UNESA Surabaya. Aku lupa bagaimana awalnya kita bisa berteman di FB sejak 6 tahun lalu. Yang pasti udah sejak lama aku suka membaca blognya sebelum dia mendapat beasiswa S2. Cerita-cerita perjalanannya bisa dilihat di www.duniazie.com ya. Kita kopdaran pertama kalinya di acara open recruitmennya FLP Pamekasan 19 Feb 2017 kemarin. Alhamdulillah dari temen dumay akhirnya bisa ngetrip bareng.

pantai-sembilan

Mbak Zie, aku, dan Mbak Amiy

Mbak Amiy, aku mengenalnya pas ikutan open recruitmen FLP Pamekasan tahun 2011 lalu. Waktu itu Mbak Amiy menjabat sebagai ketua umum FLP Pamekasan. Meski udah lama kenal baru kali ini nih kita ngetrip bareng. Gini aja ya perkenalannya. Yuk kita lanjut cerita perjalanan.

Rute Perjalanan menuju Pulau Gili Genting

Jam 2 siang Mbak Zie ngabarin kalo sudah sampai di terminal Pamekasan setelah melewati hampir 6 jam perjalanan dari Surabaya. Aku bergegas keluar kantor, urusan packing udah beres dari tadi malem. Aku bisa langsung menuju pertigaan Tambung, tempat kita janji ketemu. Dari sinilah kita memulai perjalanan. Lets begin our jurney!

Kita melajukan motor ke arah timur menuju Kabupaten paling Timur di Madura yaitu Sumenep. Sebelum masuk Sumenep Kota, kita belok kanan di pertigaan Saronggi. Tujuan kita adalah Pelabuhan Tanjung, Saronggi Sumenep. Tidak sulit untuk menemukan pelabuhan ini apalagi sejak Pantai Sembilan mulai ngehits. Dari Pertigaan Saronggi tinggal lurus aja sampai ketemu daerah yang cukup ramai. Di sekitar jalan raya sebelum masuk pelabuhan banyak sekali papan petunjuk bertuliskan “Pantai Sembilan, parkir di sini”. Jadi kalo motornya gak mau dibawa, bisa dititipin aja di rumah warga yang menyediakan halaman rumahnya sebagai tempat parkir.

Menyeberang dari Pelabuhan Tanjung

Pelabuhan Tanjung hanya berupa dermaga satu arah tempat kapal atau perahu bersandar untuk menaikkan penumpang. Sore itu ramai sekali, banyak yang juga akan menyeberang. Ongkos Kapal Reguler menuju Gili Genting seharga 10K per orang, begitu pula 10K per motor + jasa naikin motor ke atas kapal 2K. Kapal ini ada sepanjang waktu, beroperasi sampai jam 4-5 sore. Apalagi kalau weekend gini. Saat kapal merapat motor-motor dinaikkan terlebih dahulu, agak ngeri-ngeri sedap liatnya. Beberapa orang lelaki bekerjasama menggunakan papan kayu panjang yang dihubungkan dari dermaga ke kapal. Mengangkat motor menitikan di atasnya dan sampai deh. Tak perlu menunggu lama, sepuluh motor sudah memenuhi kapal. Giliran kita naik ke atas kapal dan kapal siap untuk berlayar.

pantai-sembilan

Kapal menuju Pulau Gili Genting

Ini pengalaman pertama aku naik kapal yang tidak terlalu besar kayak gini. Agak deg-degan juga sih. Bismillah aja, semoga selamat sampai tujuan. Awal-awal kapal berjalan perlahan masih bisa sumringah, separuh perjalanan mulai pias jika kapal menabrak ombak sedikit saja. Tidak terlalu besar sih, tapi buat aku yang baru pertama kali udah bikin muka pucat. Aku sama Mbak Amiy bertahan di dalam kapal sambil nahan supaya perut baik-baik aja. Sementara Mbak Zie antusias banget di luar kapal menikmati perjalanan.

Menginjakkan Kaki di Pulau Gili Genting

45 menit yang mendebarkan akhirnya berakhir setelah kapal merapat di Pelabuhan Bringsang, Gili Genting. Kita langsung turun dan menunggu motor di turunkan. Tak seramai seperti di pelabuhan Tanjung, orang-orang yang menurunkan motor hanya orang kapal sendiri dibantu penumpang-penumpang lain yang juga bawa motor. kalau tadi kita bayar ongkos penumpang di Pelabuhan Tanjung, ongkos motornya kita bayar pas udah turun dari kapal. Pelabuhan di sini lebih sepi, hanya kita orang-orang yang baru turun yang ada di pelabuhan ini.

Kubahnya yang berwarna orange sudah mulai terlihat sejak kita masih di atas kapal. Ke sanalah kita menuju untuk menenangkan diri dan menetralkan kepala yang masih goyang-goyang, juga untuk shalat ashar. Dan masjid inilah yang menjadi rumah sementara kita selama di Gili Genting. Tempatnya nyaman kamar mandinya juga bersih dan besar. Setiap masuk waktu shalat kita berlari (Red: naik motor) ke masjid ini.

Eksplore Pantai Sembilan

Abis shalat ashar saatnya kita eksplore Pantai Sembilan. Dari masjid kita melewati Balai Desa Bringsang. Letaknya hanya sepelemparan batu dari pelabuhan Brigsang. Kalaupun tidak bawa motor ke sini tinggal jalan kaki aja gak sampai bikin kaki pegel kok. Kita masuk lokasi wisata dan memarkir motor tak jauh dari pintu masuk. Aku melihatnya, ya kita melihatnya, matahari bulat sempurna berwarna pink di ufuk barat sana. Kita pasti sudah mengabadikannya dengan sempurna jika saja tidak ada petugas yang menyerahkan karcis masuk. Ah, hanya sepersekian detik bola raksasa itu sudah menghilang. Setelah membayar 5K perorang kita berlari untuk mengabadikan moment matahari tenggelam yang masih tersisa. Matahari semakin menghilang namun semburat cahaya senja berwarna jingga masih memenuhi langit, tidak berkurang keindahannya. Ini Senja paling indah dalam hidupku.

Kita berlarian, tidak tahan melepas sepatu supaya lebih bebas saat berlari, menginjakkan kaki secara langsung di pasir pantainya yang berwarna putih. Kita berlarian, meninggalkan tas dan barang bawaan kita di atas kayu yang berfungsi sebagai tempat duduk. Kita berlarian, mengambil beberapa gambar di spot-spot pantai sembilan yang lagi hits. Ah, senja yang sempurna.

Tentang Pantai Sembilan, banyak yang bilang tempat ini sebagai Hawainya Madura. Mungkin karena Pantainya mirip sama pantai-pantai yang ada di Hawai. Tapi menurutku lebih mirip Gili Trawangan. Gazebo beratapkan rumbia yang berjejer di pinggir pantai dan kursi panjang tempat bersantai menikmati aroma angin laut lengkap dengan payung warna-warninya itu loh yang bikin Pantai Sembilan berasa Gili Trawangan. Setuju gak? Iyain aja deh. Maksa, hehe.

pantai-sembilan

Jajaran Gazebo di pinggir pantai, lihat di belakang

Semua orang pasti udah tahu kenapa namanya Pantai Sembilan kan, konon adanya cekungan yang terisi air di pinggir pantai ini jika di lihat dari atas membentuk angka sembilan. Sayang kita gak punya drone jadi gak bisa lihat langsung dari atas. Banyak sekali spot yang instagramable di sini. Ada papan kayu bertuliskan “Selamat datang di wisata Pantai Sembilan Gili Genting”. Rasanya belum ke Pantai Sembilan kalau belum foto di spot ini. Ada rangkaian bunga berbentuk love, ayunan, ranjang kayu lengkap dengan kelambunya, tulisan-tulisan bernada ajakan yang bisa kita pegang saat berfoto. Puas-puasin aja deh selfie-selfie di sini, gak bakal bosen. Ada wahana banana boatnya juga yang harus kamu cobain.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Senja cepat sekali berlalu, kita beranjak meninggalkan Pantai Sembilan menuju masjid berkubah orange untuk shalat Maghrib sekalian menunggu adzan isyak berkumandang. Selepas shalat Isyak kita kembali ke Pantai Sembilan buat nyari makan. Gak perlu khawatir kelaparan di sini, banyak warung makan berjejer tinggal kita pilih. Harganya juga cukup terjangkau, sekitar 10-15K. Aku pesen nasi dengan lauk cumi, tahu+tempe 15K, kalau Cuma pakek telur 10K saja. Air putih tanggung 3K. Kita makan dengan syahdu di salah satu gazebo beratap rumbia yang berjejer sepanjang pantai. Pas lagi asyik-asyiknya makan Mbak Zie gak sengaja mendongak dan melihat colokan. Udah kayak lihat harta karun aja, langsung deh kita ambil charger dan colokin ke HP. Saat traveling colokan adalah harta karun paling berharga. Sehabis makan kita masih menunggu sampai daya HP terisi cukup sambil ngomongin kemana kita akan pergi besok.

Angin pantai membelai lembut, lembut sekali, tak sampai membuat kita harus merapatkan jaket. Malam ini kita berjalan mengeksplore tempat yang tadi belum sempat kita eksplore. Baru beberapa langkah kaki mengayun Mbak Zie tiba-tiba berseru dan menunjuk ke arah timur. Aku sama Mbak Amiy menoleh ke arah yang ditunjuk Mbak Zie. Malam yang sempurna. Bulan purnama begitu cantik. Ah. Sungguh malam yang sempurna. Langit malam ini juga bersih, beberapa kerlip bintang menghias di langit sana.

pantai-sembilan

Purnama bersinar

Malam Minggu di Pantai Sembilan begitu ramai. Ada banyak tenda berdiri di sebelah selatan, banyak yang ngecamp sambil menyalakan api unggun, ada pula yang sedang bermain volly pantai. Kita Lanjut berjalan menyusuri tepian pantai dalam kegelapan dari ujung ke ujung sampai lelah. Kemudian merebahkan diri di atas pasir memandang kerlip bintang di langit sana. Tidak, kita tidak hanya merebahkan diri lantas kembali ke penginapan. Malam ini kita merebahkan diri hingga esok pagi. Ah, aku belum pernah membayangkan ini sebelumnya. Tidur di tepi pantai beralaskan pasir beratapkan langit penuh bintang. So amazing.

Sebenarnya kita berecana menginap di rumah mertua temannya Mbak Amiy. Tapi karena tadi kita nyampeknya agak malem jadi dicancel, ternyata tempatnya lumayan jauh dari sini. Sangat tidak memungkinkan menuju ke sana pada malam hari yang gelap. Tanya ke petugas tentang penginapan ternyata udah penuh. Ya sudah, kita tidak repot-repot untuk mencari penginapan lain. Ya di sinilah kita bermalam.

pantai-sembilan

Beralaskan pasir pantai beratap langit penuh bintang

Gak takut?

Takut sih sebenarnya. Tapi ada beberapa alasan yang membuat kita memutuskan untuk bermalam seperti ini. Pertama, pantai ini terlihat ramai sampai malam hari, suasana terasa lebih bersahabat jadi insyaallah aman. Kedua, kita memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari acara alumni salah satu SMA Sumenep yang sedang berlangsung hingga larut malam. Ketiga, langit sedang cerah dan angin tidak terlalu kencang. Biasanya aku tidak tahan dengan cuaca dingin tapi di sini tidur mengenakan jaket aja sudah bisa menghalau dinginnya malam. Mbak Zie aja tidur tanpa mengenakan jaket, alhamdulillah tidak kedinginan. Yang pasti lihat situasi dan kondisi dulu lah jika mau bermalam seperti ini.Tidak sedikit pengunjung lain yang berlalu-lalang di sekitar kita. Pasang muka cuek aja terus pejamkan mata. Beres.

Kita terbangun sebelum adzan subuh berkumandang. Kalo bangunnya kesiangan dan kita masih sini nanti dikira ikan duyung lagi terdampar, hihi. Tolah toleh kanan kiri masih sepi, periksa barang bawaan alhamdulillah tak ada yang berkurang. Kita segera bergegas menuju masjid untuk shalat subuh. Rencana selanjutnya kita mau mengejar sunrise di Pantai Kahuripan. Tapi lihat gugel map tempatnya lumayan jauh. Belum lagi akses jalan katanya kurang bagus. Dari pada kesiangan dan kita kehilangan sunrise seperti kemarin, kita putuskan untuk kembali ke Pantai Sembilan (lagi).

Jika ingin menikmati sunrise di Pantai Sembilan, berjalanlah ke bagian utara pantai. Kita akan menyaksikan matahari menyembul di ufuk timur. Perlahan ia naik semakin tinggi dan menghangatkan. Tidak cuma sunsetnya, sunrise di Pantai Sembilan gak kalah cantik loh. Aku jatuh cinta sama pantai ini. Pada pasir putihnya, pada airnya yang jernih, pada ombaknya yang tenang, pada senja dan sunsetnya yang memesona. I Love it. Pantai ini membuatku jatuh cinta.

Matahari semakin tinggi. Warna biru laut semakin terlihat menggoda. Gak tahan liat airnya yang jernih tapi sayang kita udah mandi dan ganti pakaian. Kalau tidak, kita pasti udah melompat bermain air. Next time deh harus balik lagi ke sini buat nyebur-nyebur. Aku sangat menyukai perjalanan ini, perjalanan yang penuh petualangan. This is our Journey. And this is the real adventure.

pantai-sembilan

I Love it

Iklan

One thought on “Pantai Sembilan Gili Genting, Membuatku Jatuh Cinta

  1. Ping-balik: Perjalanan Tak Terlupakan ke Gili Iyang | Dear Titim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s