Perjalanan Tak Terlupakan ke Gili Iyang

gili-iyang

Senja di Gili Iyang

Assalamualaikum, Apa kabar semuanya? Sebelumnya aku sudah pernah menulis tentang perjalananku ke Pantai Sembilan Gili Genting. Lihat di postingan sebelum ini ya: Pantai Sembilan Gili Genting, Membuatku Jatuh CintaNah setelah dari Pulau Gili Genting perjalananku masih berlanjut ke pulau lainnya yakni Gili Iyang. Kedua pulau ini letaknya berjauhan tidak bisa ditempuh langsung dari pelabuhan yang sama. Kita harus balik dulu ke daratan Pulau Madura melalui Pelabuhan Tanjung. Dari sana kita menuju arah kota, nyari makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Eh beruntung kita bisa numpang charge HP dan kamera untuk menambah daya yang mulai menipis. Baiknya lagi kita cukup bayar uang makan tanpa perlu bayar biaya ngecharge. Terima kasih Ibu pemilik warung.

Rute menuju Gili Iyang

gili-iyang

pakek gugel mep

Amunisi sudah terisi, kita siap melanjutkan petualangan. Dari Sumenep Kota kita ke arah timur menuju Pelabuhan Dungkek. Dari sanalah kita akan menyeberang menuju pulau Gili Iyang. Perjalanan ke pelabuhan Dungkek cukup jauh, jaraknya 24 KM sekitar 1 jaman lah. Rutenya tidak terlalu sulit tinggal luruuus aja sampai ketemu Pasar Dungkek. Nah di situ baru kita tanya dimana letak Pelabuhan Dungkek yang sesungguhnya. Pelabuhan Dungkek terlihat lebih besar dan lebih ramai dari Pelabuhan Tanjung Saronggi. Matahari yang terik tak pelak membuat cuaca lebih panas dan bikin gerah.

Seperti yang aku bilang aku minim informasi tentang transportasi ke Gili Iyang. Setahuku kalau mau ke Gili Iyang harus sewa perahu untuk menuju ke sana. Baiknya bawa banyak teman supaya ongkos sewa perahu lebih murah. Itu kenapa aku belum pernah berpikir untuk ke sana, karena aku gak punya banyak teman buat diajak, hiks. Tapi ternyata aku salah besar. Ternyata ada juga kapal regular yang bisa kita naiki. Catat ya, sudah ada KAPAL REGULAR. Gak perlu khawatir meski kita hanya ngetrip bareng 2-3 orang. Serunya lagi kita juga bisa loh bawa motor. Tapi ongkosnya lebih mahal, 20K per motor. Untuk penumpang sendiri 10K per orang.

Kapalnya lebih besar dari kapal menuju Gili genting. Kapal ini memuat banyak bahan sandang dan pangan bahkan kapal yang kita naiki juga mengangkut 2 ekor sapi. Tenang aja sapi-sapi ini ada di bagian bawah sementara kita para penumpang ada di atas. Aku melihat langsung bagaimana sapi-sapi itu berenang lalu dinaikkan ke atas kapal. Lagi-lagi aku tidak terlalu menikmati perjalanan karena menahan diri agar tidak mabuk laut. Berbekal sebutir permen yang dikasih Mbak Zie, aku lebih banyak diam sambil bersandar ke tiang kapal.

Berlabuh di Pulau Gili Iyang

Finally, kita mendarat di Pelabuhan, hmmm pelabuhan bukan ya? soalnya gak ada dermaganya. Sepi pula. Setelah membayar ongkos kita masih bingung mau kemana,  yaudah ngikuti jalan aja mencari masjid terdekat dulu buat shalat. Masjidnya adem tapi sayang tak ada kamar mandi, hanya ada tempat wudhu. Ada yang unik di masjid ini banyak sekali burung sriti beterbangan.

Tentang itinerary, Mbak Zie sudah mengatur semuanya. Aku sama Mbak Amiy tinggal ngikut aja. Di depan masjid ada denah wisata yang bisa memberi kita petunjuk. Biasanya orang ke sini rombongan dan sewa transportasi berupa odong-odong. Lah kita nekat bawa motor sendiri tanpa guide. Berbekal denah wisata di depan masjid dan tidak berhenti bertanya pada setiap orang yang ditemui kita mengeksplore beberapa spot menarik secara mandiri. Jadi benar-benar kerasa petualangannya.

Waktu yang kita miliki sangat terbatas. Jadi tidak semua spot wisata bisa kita eksplore. Itupun hanya singkat saja karena diburu waktu takut kemaleman dan gak dapet kapal buat pulang. Katanya kapal terakhir dari Gili Iyang sekitar jam 2-3. Tadinya kita sudah mengantongi kontak pemilik kapal waktu berangkat tadi. Jadi kita bisa menghubungi kapan pastinya ia akan berangkat.

gili-iyang

Lokasi Titik Oksigen di Desa Bancamara Gili Iyang

Waktu sampai di titik oksigen kita gak sengaja ketemu sama orang Dinas Pariwisata Sumenep yang lagi mengawasi pembangunan gapura. Mereka menawarkan untuk pulang bersama sekitar jam 4 sore. Kita langsung menerima tawaran tersebut. Dengan begitu kita punya waktu lebih banyak untuk mengeksplore tempat lainnya. Ada aja hal-hal tak terduga yang membuat perjalanan kita berbeda dan menyenangkan.

gili-iyang

Salah satu pesona keindahan Gili Iyang, Batu Canggah

Sebenarnya kita masih kurang puas mengeksplore pulau Gili Iyang ini. Hanya ada 5 tempat yang berhasil kita datangi. Dengan terpaksa kita balik ke titik oksigen, tempat kita bertemu orang Dinas Pariwisata Sumenep. Kebetulan dari titik oksigen menuju pelabuhan aku bareng sama Mas Ramdan, guide Dinas Pariwisata Sumenep. Aku mendapatkan banyak sekali informasi salah satunya saat melewati tower pembangkit tenaga listrik yang didirikan oleh LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Dari pembangkit tenaga listrik inilah pantauan satelit LAPAN mendapati bahwa kandungan oksigen di pulau tersebut cukup tinggi.

Drama Perjalanan pulang dari Gili Iyang

Kita berbincang-bincang dengan Mas Ramdan sembari menunggu Pak Dayat dan rekannya yang sedang mengurus sesuatu. Dari obrolan dengan Mas Ramdan kita tahu kalau kita terancam tidak bisa pulang hari ini karena tak ada perahu yang mau mengantar. Entah karena kondisi laut yang kenapa aku juga kurang tahu. Di sini drama dimulai. Aku khawatir, bagaimana kalau kita beneran gak bisa pulang dan harus menginap? Oh tidak, aku sudah janji sama orang rumah bakal pulang malam ini. Besok aku juga harus masuk kerja. Cukup lama kita menunggu akhirnya Pak Dayat datang membawa kabar gembira. Kita bisa pulang. Alhamdulillah.

gili-iyang

Sambil menunggu perahu disiapkan kita menikmati senja di Gili Iyang. Sungguh Tuhan Maha baik, Ia mengganti sunset yang terlewat kemarin di Pantai Sembilan. Hari ini kita berada ditepian pantai Pulau Gili Iyang menyaksikan matahari bulat sempurna perlahan tapi pasti kembali ke peraduannya. Matahari benar-benar tenggelam saat kita di atas perahu, bersiap untuk berlayar. Siapapun tak kan meragukan keindahan Tuhan yang Maha Indah. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Mbak Zie dan Mbak Amiy udah ngajakin ngetrip bareng.

Kita naik dari pelabuhan yang berbeda dengan pelabuhan saat kita sampai tadi. Ada banyak pelabuhan di sini katanya tergantung kondisi pasang surut air laut. Perahupun mulai dikayuh dengan galah panjang, perlahan mulai menjauh dari pulau Gili Iyang.

“Mbak, ini perahunya sampai pelabuhan Dungkek dikayuh gini?” aku berbisik sama Mbak Amiy. Mesin perahu kemudian dihidupkan sebagai jawaban dari pertanyaanku. Akhirnya kita beneran bisa pulang. Tapi kemudian sesuatu terjadi. Tak begitu jauh perahu berlayar, mesin perahu tiba-tiba mati. Rasa takut mulai menyergap. Syukurlah tak lama kemudian setelah diperbaiki mesin perahu menyala.

Tapi beberapa menit kemudian mesin mati lagi. Sudah cukup lama mesin perahu diperbaiki tapi tak kunjung menyala. Perahu beberapa kali bergoyang-goyang mengikuti gelombang laut. “Allah, selamatkan kami!” aku banyak berdoa dalam hati berusaha mengusir ketakutan. Mbak Amiy sudah serius dengan Al-ma’tsuratnya. Hanya Mbak Zie yang terlihat tetap tenang sambil bercakap-cakap dengan Pak Dayat. Mimpi apa aku semalam? Terombang-ambing di tengah lautan seperti ini, pasrah sepenuhnya hanya Pada Allah. Sungguh diri ini teramat kecil dan tidak berdaya. Aku benar-benar besrsyukur saat mesin perahu kembali hidup. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam dan banyak berdoa dalam hati, semoga mesin perahu tidak mati lagi. Matahari sempurna kembali ke peraduannya. Pemandangan senja di tengah lautan seperti ini luar biasa.

Hari sudah semakin gelap. Entah sudah berapa lama perjalanan kita lalui perahu akhirnya mulai mendekati pelabuhan Dungkek. Kita belum bisa bernafas lega, satu masalah lagi, perahu belum menemukan posisi yang pas untuk bersandar. Aku kembali panik saat perahu sempat oleng sedikit saat akan merapat ke dermaga. Daaan akhirnya syukur alhamdulillah kita bisa mendarat dengan sempurna di pelabuhan Dungkek yang sudah sepi. Kalau saja tidak ingat sedang di pelabuhan aku sudah teriak-teriak saking senengnya, hehe. Perjalanan ini sungguh mengagumkan. Sampai kapanpun tidak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Ah, amajing banget.

Karena Traveling itu bukan hanya tentang tempat tujuan, tapi juga tentang perjalanan itu sendiri

Orang yang mengantar kita dari Gili Iyang langsung balik malam itu juga. Terima kasih ya Pak sudah mau mengantar. Semoga selamat sampai rumah. Dan ini dia wajah-wajah kegirangan setelah beberapa jam perjalan yang mendebarkan.

gili-iyang

Wajah-wajah bahagia mendarat di Pelabuhan Dungkek

Terima kasih Bapak-bapak dari Dinas Pariwisata Sumenep sudah memberi tumpangan dan memberikan pengalaman berharga yang tidak terlupakan.

Saatnya kita pulang.

Iklan

One thought on “Perjalanan Tak Terlupakan ke Gili Iyang

  1. Ping-balik: Apa sih yang menarik di Gili Iyang? | Dear Titim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s